Joint ClubCooee:

Club Cooee

Sabtu, 18 September 2010

Dianette



Bagai duri duri, belukar besi bekas di las, dan sampah berserakan di jalan lorong, dengan langkah kaki terburu buru aku melewatinya, pintu pintu berbentuk square, kusam namun tua dan kokoh warnanya tidak pernah terhapus dari ingatanku, bukan ingatan yang menyenangkan, dan bangku penuh coretan aksara latin..dimana di dinding yang masih baruang ada kaligrafi seperti curahan hati anak2 muda yang tidak habis..dari generasi dulu.
Dan aku sampai di ruang berpintu besar, bingkai pintunya dari kayu oak ada gagang yang segera kupegang, aku menoleh kebeberapa wajah dingin prempuan jalang, dan pintu terdorong..aku masuk..mendekat ke tempat gelap..ku raba dinding kutekan stokontak..lampu menyala Dianette menyembunyikan wajah sambil memeluk lututnya duduk di lantai. Kulit hitam khas astro afrikanya berkeringat..rambut keriting itu bergoncang goncang..
Aku membungkuk mencoba menyentuhnya.tapi aku ragu..harus berkata apa..aku menyebut nama kecilnya pelan. Aphrodite.
-Pergilah aku gak butuh kasihan kalian semua isaknya
aku berdiri: baik aku akan pergi, aku akan mencarinya untukmu kataku tegas
dia mengangkat wajah dan menggelengkan kepala, air matanya mengalir hingga ke pipi, begitu naif ketika kulihat perona merah pipinya luntur oleh karenanya.
-jangan lakukan itu, Phil...aku hanya minta tolong kamu menghubungi Bibi di Manhattan.

Dianette telah lama menghuni lokasi itu, dia meninggalkan Manhattan menjadi pelacur murahan tidaklah mudah bagi seorang gadis berkulit hitam, kami berteman karena kami pernah sama sama bersekolah di sekolahnya anak anak nakal..hari ini dia menghubungi aku..dia di perkosa oleh kekasihnya sendiri yang kemudian kabur membawa segala miliknya.

Akhirnya aku berhasil membujuknya pergi, membantunya berdiri dan melakukan perjalanan dengan mobil yang baru aku sewa di Detroit.
Sepanjang perjalanan ke Detroit aku sesekali meliriknya dengan kuatir
Diannete kemudian ikut berimigrasi ke Australia dan sekarang telah menikah dengan seorang lelaki muslim maroko di usia ke 18.(dia telah menjalani prostitusi pada usia 15)

Hidup ini tidaklah mudah di jalani karena kita tidak pernah tahu apa yang kita dapatkan pada keesokan harinya, tetapi lebih tidak mudah menerima kehidupan ketika kita sudah tau tentang apa yang bakal terjadi kepada diri kita...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar