
Ayah memandangku tajam
Aku yang masih kecil tertunduk, kertas kertas stencil berserak dilantai
jendela terbuka, daunnya menari bersama gorden biru, angin memburu rambut pirangku
kamu belum mengerti betapa susahnya Ayah memulai semua ini, dan kamu seharusnya tau akan menjadi apa kelak
aku membisu meremas tangan kecilku, ibu dimanakah anda? saat seperti ini
aku butuh perlindungan, saat dunia dan tuhan menghukum aku, kepada siapakah aku berdoa?
Dan malamnya aku tertidur sendirian di kamar besar menakutkan..tanpa pengasuh
dan paginya aku duduk dibelakang ayah yang menyetir dengan seat belt melilit tubuhku
dia mengangkat tubuhku di depan sekolah
dia menatap mataku dengan tatapan menuntut, dia tahu segalanya, dan aku takut
takut pada kehidupan ini
Dan dengan langkah kecil aku masuk kedalam kelas di bimbing seorang guru
duduk di bangku mnghadap papan tulis
pikiranku tidak disana, pikiranku pada malam penuh bintang dan ibu terduduk menangis sambil memeluk kaki ayah.
sapaan guru mengejutkan aku dia mengambil kertas coretanku dengan senyum sabar tapi kecewa, dia melihat lukisanku tentang rumah dan seorang anak di dalam gulita
dia tidak mengerti arti coretan itu, dan aku tidak mengerti mengapa aku bisa mencoret seperti itu.
ibu guru mendekatkan wajahnya dan menatap wajahku prihatin, apakah kamu baik baik saja? tanyanya aku mengangguk,
mengapa kamu tidak pernah menjawab dengan suara selain mengangguk dan menggeleng? tanyanya lagi...aku balas memandang matanya..dan pandangan mataku selalu membuatnya terpesona, hingga dia berkata oke sayang dan mengelus kepalaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar