
Rembulan sipit di langit muram
kelam yang beradu dengan cahaya temaram, sayup gulita merangkak ke gunung
Rembulan adalah mama, bola mata hitammu yang teduh sejuk dan aku tak pernah jemu
memandangnya dari bawah hidungmu, aku tak pernah lupa kehangatan dekapan itu
di bawah nyala neon di pulau tropis, aku tidak pernah melepas engkau dari mimpiku
Tiba tiba engkau terenggut, masih teringat isakanmu yang menjauh
Masih teringat sedih sedu sedanku yang tak berbalas
Mereka berkata lupakanlah semua itu
Aku selalu melawan dan berkata: tidak
karena aku harus mengingatnya, karena aku mendapatkan kekuatanku dari mengingat
semua peristiwa itu
karnena Engkau mamaku, engkau adalah rembulanku!

:)
BalasHapus